infomjlk.com — Kenaikan harga minyak goreng curah belakangan ini memicu keresahan warga Majalengka. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai alasan kebutuhan pokok tersebut melonjak tajam saat harga Bahan Bakar Minyak domestik tetap stabil.
Sebagian besar, publik mulai berasumsi dengan mengaitkan kondisi ini sebagai imbas dari ketegangan geopolitik Timur Tengah di Selat Hormuz.
Stabilitas harga BBM saat ini dipengaruhi oleh kebijakan perlindungan ekonomi pemerintah. Merujuk laporan RM Banten pada tanggal 12 Maret 2026, Komisi XII DPR RI menjamin harga BBM bersubsidi tidak akan naik.
Pemerintah menahannya melalui intervensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara guna menjaga daya beli masyarakat. Nominal yang tertera di SPBU sama sekali tidak merepresentasikan lonjakan harga energi global yang sesungguhnya.
Berbeda dengan BBM, kelapa sawit mentah atau CPO sebagai bahan baku utama minyak goreng curah bergerak mengikuti mekanisme pasar internasional.
Berdasarkan laporan Kontan pada tanggal 16 Maret 2026, eskalasi konflik di Selat Hormuz memicu lonjakan tajam harga minyak bumi dan CPO.
Pasar energi global merespons kondisi ini dengan memborong CPO untuk segera dikonversi menjadi bahan bakar alternatif biodiesel.
Tingginya serapan CPO untuk kebutuhan energi global tersebut, secara tidak langsung mengurangi alokasi rantai pasok pangan domestik.
Keterbatasan bahan baku di tingkat produsen, dapat memicu kelangkaan dan mendorong kenaikan harga minyak goreng curah di pasaran Majalengka. Lonjakan harga di tingkat lokal ini terbukti merupakan rentetan akibat langsung dari krisis geopolitik dunia.

