Kilas Balik Tragedi Nol Buku: Ketika Siswa Amerika Tamatkan 32 Karya Sastra, Kita Masih Nihil

infomjlk.com — Sebuah fakta mencengangkan pernah diungkap oleh penyair senior Taufiq Ismail melalui penelitian panjangnya pada tahun 1997. Dalam riset bertajuk Pengajaran Sastra di SMU: Membisukan, Nol Buku, dan Mengarang yang Bingung, terungkap kesenjangan yang sangat ekstrem dalam kurikulum pendidikan sastra di Indonesia dibandingkan negara-negara lain.

Data tersebut memotret kewajiban membaca buku sastra, baik novel maupun drama, bagi siswa setingkat SMA selama tiga tahun masa sekolah. Hasilnya menempatkan Indonesia di dasar klasemen dengan angka mutlak yaitu nol (0) judul buku.

Sebagai pembanding, siswa di Amerika Serikat (diwakili SMA di New York) diwajibkan menamatkan 32 judul buku sastra kelas dunia selama tiga tahun. Artinya, mereka tidak sekadar membaca ringkasan atau sinopsis, melainkan membaca karya utuh, mendiskusikannya, dan menulis esai tentangnya.

Negara-negara Eropa juga menerapkan standar tinggi. Siswa di Belanda dan Perancis diwajibkan membaca 30 judul buku. Di Jerman Barat (saat riset dilakukan), siswa wajib melahap 22 judul. Bahkan di Asia, Jepang mewajibkan siswanya membaca 15 judul buku sastra, sementara tetangga serumpun Malaysia mewajibkan 6 judul.

Perbandingan dengan Era AMS

Data Taufiq Ismail ini semakin menohok jika ditarik ke belakang, melihat sejarah pendidikan di Nusantara sendiri.

Pada zaman Hindia Belanda, siswa Algemeene Middelbare School atau AMS yang setara dengan SMA saat ini diwajibkan membaca 25 judul buku sastra sebelum lulus. Kurikulum kolonial saat itu mewajibkan siswa berdialog dengan pemikiran-pemikiran besar lewat karya sastra, baik sastra Melayu maupun dunia.

Namun, sejak kemerdekaan hingga periode riset tersebut (1950-1997), angka itu terjun bebas menjadi nol. Kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia bergeser fokus menjadi pengajaran tata bahasa dan hafalan teori semata. Siswa lebih disibukkan dengan struktur kalimat Subjek-Predikat-Objek ketimbang menyelami kedalaman rasa dan pemikiran dalam sebuah karya sastra

Dampak Nol Buku

Ketiadaan kewajiban membaca karya sastra ini disebut Taufiq Ismail sebagai “Tragedi Nol Buku”. Tanpa asupan bacaan yang berkualitas, siswa tumbuh menjadi generasi yang rabun membaca dan lumpuh menulis.

Istilah rabun membaca merujuk pada ketidakmampuan memahami bacaan panjang dan kompleks karena tidak terlatih. Sementara lumpuh menulis adalah ketidakmampuan menuangkan gagasan secara runtut karena minimnya perbendaharaan kata dan wawasan yang biasanya didapat dari membaca buku.

Data ini memperlihatkan secara jelas bahwa sistem pendidikan kita telah lama mengabaikan sastra sebagai fondasi pembentukan nalar. Sementara negara maju sibuk mewajibkan siswanya bergulat dengan karya Hemingway, Steinbeck, atau Shakespeare, siswa kita dibiarkan lulus tanpa pernah menyelesaikan satu pun judul buku hingga tuntas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *