infomjlk.com — Aroma segar timun suri yang merekah di hamparan hijau Kecamatan Kertajati menjadi penanda datangnya berkah Ramadan 2026. Di tengah terik matahari, para petani di Desa Sukakerta, Kabupaten Majalengka, tengah berpesta pora merayakan hasil jerih payah mereka. Tak main-main, dalam sehari mereka mampu memanen hingga 7 ton buah primadona takjil ini.
Dilansir dari Tribun Jabar, bagi Yamin, salah satu petani setempat, Ramadan tahun ini adalah musim keemasan. Mengelola lahan seluas enam hektare, ia menyaksikan bagaimana modal Rp100 juta yang ditanamnya kini berbuah manis. Dengan volume panen mencapai 6 hingga 7 ton per hari, Yamin mampu meraup omzet fantastis sekitar Rp35 juta dalam sekali angkut.
“Alhamdulillah, Ramadan ini benar-benar membawa berkah melimpah. Hasil panen tahun ini adalah yang terbaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Yamin dengan wajah sumringah saat ditemui di sela aktivitas panen, Sabtu (22/2/2026).
Kualitas timun suri Kertajati yang dikenal segar dan bertekstur lembut menjadikannya buruan utama para pengepul. Dijual seharga Rp5.000 per kilogram di tingkat petani, buah-buah ini langsung didistribusikan ke berbagai kota besar seperti Bandung, Tasikmalaya, hingga Jakarta.
Meski cuaca sempat fluktuatif, Yamin mengaku produktivitas lahan tetap terjaga, sementara permintaan pasar melonjak tajam sejak awal bulan puasa.
Fenomena panen raya ini tidak hanya menarik minat bandar besar. Warga sekitar pun berbondong-bondong mendatangi kebun untuk mendapatkan stok takjil dengan harga “miring”. Di pasar, harga timun suri bisa menyentuh angka Rp10.000 per kilogram, namun di kebun, warga bisa memboyongnya hanya dengan separuh harga.
Oki, salah seorang pembeli setia, mengaku lebih puas belanja langsung di lokasi panen. “Selain harganya jauh lebih murah, kita bisa pilih sendiri buah yang baru dipetik. Masih segar sekali untuk campuran es buah nanti sore,” ungkapnya.
Timun suri memang telah menjadi ikon kuliner Ramadan. Kandungan airnya yang tinggi menjadikannya primadona untuk diolah menjadi kolak, es campur, hingga rujak segar. Di Kertajati, buah musiman ini bukan sekadar menu berbuka, melainkan simbol keberhasilan petani lokal dalam menangkap peluang di bulan suci.

