infomjlk.com — Tingginya harga gabah di pasaran ternyata membawa kecemasan tersendiri bagi para petani di Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka. Demi menjaga butiran keringat mereka dari incaran pencuri, sejumlah petani terpaksa bermalam di gubuk tengah sawah untuk menjaga gabah yang sedang dijemur.
Dilansir dari Pikiran Rakyat, langkah ini diambil menyusul maraknya aksi pencurian gabah yang menghantui petani pada musim panen tahun lalu. Terlebih lagi, momen menjelang Lebaran dan harga gabah yang tengah melambung tinggi membuat risiko kriminalitas kian meningkat.
“Kalau tidak begini, takut ada yang mencuri. Apalagi posisi sawah dekat dengan jalan raya. Tahun lalu, sawah yang jauh dari jalan saja tetap dibobol maling,” ungkap Harjo, salah satu petani asal Blok Cigowek, saat ditemui di sela aktivitasnya menjemur gabah, Rabu (25/2/2026).
Pemandangan unik terlihat di area persawahan Kelurahan Simpeureum. Harjo dan rekannya, Muhari, berbagi tugas menjaga jemuran mereka. Saat siang, mereka berjibaku dengan panas matahari untuk mengeringkan padi. Menjelang petang, tumpukan gabah ditutup rapat dengan terpal untuk melindunginya dari hujan malam hari, sebelum akhirnya mereka bersiap berjaga hingga fajar.
Meski harus menginap di gubuk sederhana, urusan ibadah dan logistik tetap terjaga. Istri mereka setia mengirimkan menu berbuka puasa dan sahur ke sawah. “Kami bawa bekal lengkap, mulai dari sarung, handuk, sampai termos kopi. Kalau mandi atau salat, kami bergantian ke musala terdekat,” tambah Muhari.
Ketakutan para petani ini bukan tanpa alasan. Mamah, petani lainnya, menceritakan bahwa tahun lalu aksi pencurian sangat merajalela. Ada petani yang kehilangan enam hingga belasan karung gabah dalam satu malam. Pola pencurian ini diduga terjadi karena nilai ekonomi gabah yang sangat menggiurkan.
Saat ini, harga gabah memang sedang “manis”. Gabah kering panen (GKP) menyentuh angka Rp720.000 per kuintal, sementara gabah kering giling (GKG) di tingkat tengkulak sudah menembus Rp850.000 per kuintal. Bagi petani, menjaga gabah di tengah sawah adalah harga mati untuk memastikan dapur mereka tetap mengepul di hari raya nanti.

