Mengenal Sosok Sejarawan Dibalik Penulisan Ulang Sejarah Kabupaten Majalengka!

infomjlk.com — Kabupaten Majalengka resmi memasuki babak sejarah baru. Terhitung sejak 11 Februari 2026, kabupaten yang dijuluki “Kota Angin” ini tidak lagi merayakan ulang tahunnya setiap 7 Juni. Perubahan fundamental ini ditandai dengan peluncuran buku Sejarah Kabupaten Majalengka yang sekaligus mengukuhkan 11 Februari 1840 sebagai hari lahir yang sah secara historis.

Namun, di balik pergeseran tanggal tersebut, ada dedikasi panjang seorang srikandi sejarah nasional. Ia adalah Prof. Dr. Nina Herlina, M.S., Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad), yang menjadi nakhoda dalam membedah ulang asal-usul Majalengka melalui kacamata ilmiah.

Dilansir dari Kabar Majalengka, keterlibatan Prof. Nina ternyata bukan proses instan. Jejaknya di Majalengka sudah dimulai sejak tahun 2007. Kala itu, budayawan lokal Rachmat Iskandar merasa ada yang janggal dengan penetapan hari jadi 7 Juni 1490 yang selama ini diyakini masyarakat. Dasar lama tersebut dinilai lebih kental dengan unsur mitos ketimbang bukti tertulis yang autentik.

Meski penelitian awal dan seminar telah dilakukan sejak 2007, upaya ini sempat “mati suri” selama belasan tahun karena kurangnya respons dari pemerintah daerah saat itu. Baru pada April 2025, di bawah kepemimpinan Bupati Eman Suherman, kajian ini dibangkitkan kembali secara komprehensif.

Prof. Nina memimpin tim lintas disiplin untuk menyusun Naskah Akademis yang menguji eksistensi Kerajaan Talaga Manggung sebagai akar sejarah Majalengka. Melalui Uji Publik pada Mei 2025, para pakar menyepakati bahwa 11 Februari 1840 memiliki landasan arsip yang paling kuat.

Rekomendasi ilmiah ini tidak hanya berakhir di atas kertas. Hasil kajian tim Prof. Nina menjadi dasar bagi DPRD Kabupaten Majalengka untuk mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) baru pada 13 Desember 2025.

Bagi dunia akademik, nama Prof. Nina Herlina adalah jaminan mutu. Perempuan kelahiran Bandung tahun 1956 ini merupakan pakar historiografi yang dikenal sangat disiplin terhadap sumber primer dan kritik arsip. Sepanjang kariernya sejak 1985, ia telah membidani lahirnya puluhan buku sejarah daerah di Jawa Barat dan Banten, mulai dari Bandung, Kuningan, hingga Pangandaran. Tak hanya Majalengka, kepiawaiannya juga telah membantu pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Banten dalam menata ulang hari jadi mereka.

Kini, dengan terbitnya buku Sejarah Kabupaten Majalengka, masyarakat “Kota Angin” resmi meninggalkan narasi mitologis dan beralih ke sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi Prof. Nina, ini bukan sekadar mengubah tanggal di kalender, melainkan upaya memberikan identitas yang jujur bagi generasi masa depan Majalengka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *