infomjlk.com — Bagi sebagian remaja, energi yang meluap dan hasrat untuk diakui seringkali berujung pada hal yang destruktif, seperti tawuran dan perkelahian jalanan. Sekolah kejuruan, yang sebelumnya berpotensi menjadi medan konflik, kini sudah sepantasnya mencari solusi yang cerdas dan terstruktur. Salah satunya, dengan meresmikan Ekstrakurikuler (Ekskul) Kick Boxing seperti halnya yang dilakukan SMK Korpri Majalengka.
Hal ini bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah transformasi karakter. Di dalam sasana, pelajar diajarkan bahwa kekuatan fisik bukanlah modal untuk intimidasi, melainkan alat yang harus dikuasai dengan disiplin dan kontrol diri, dua fondasi utama yang umumnya hilang saat tawuran atau perkelahian jalanan pecah.
Saat seorang pelajar mengenakan sarung tinju, ia belajar menyalurkan amarah, frustrasi, dan kelebihan energi yang biasanya dibawa ke jalanan. Setiap pukulan maupun tendangan adalah pelepasan stres yang lebih terarah.
Kick Boxing mengajarkan bahwa loyalitas sejati diukur dari dukungan di sesi latihan, bukan dari keberanian melawan musuh di jalanan. Mereka membangun rasa percaya diri yang otentik, tidak perlu dicari melalui kekerasan.
Dampak positif Kick Boxing ini tentunya semakin nyata berkat adanya panggung resmi. Majalengka kini sudah tidak asing dengan acara bela diri. Baru-baru ini, Kabupaten Majalengka kembali mengadakan event Els Jawara Fest, Mini Series 2025, sebuah ajang yang mencari petarung MMA dan combat sport berbakat di kalangan remaja.
Ekskul Kick Boxing pada dasarnya menjadi jembatan bagi pelajar yang dulunya mungkin memamerkan kekuatan di jalanan, untuk kini bisa membuktikan diri di gelanggang yang sah. Kompetisi lokal seperti Els Jawara Fest menawarkan pengakuan dan prestasi yang jauh lebih berharga daripada julukan jagoan tawuran. Mereka melihat bahwa ada karier, kehormatan, dan respect yang menunggu di dalam ring, bukan jeruji besi.
Dengan menyediakan fasilitas dan pembinaan yang tepat, sekolah seperti SMK Korpri Majalengka secara efektif mengarahkan potensi destruktif remaja menjadi kekuatan olahraga. Ini adalah cara Majalengka merangkul energi pemudanya, mengubah bunyi sajam di jalanan menjadi gemuruh sorakan di gelanggang.

