infomjlk.com — Di tengah derasnya arus investasi dan pembangunan industri, Pemerintah Kabupaten Majalengka “mengunci” sekitar 50.000 hektare Lahan Baku Sawah (LBS) demi menjaga kedaulatan pangan. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan ketersediaan pangan daerah.
Dilansir dari bisnis.com, Bupati Majalengka, Eman Suherman, menegaskan bahwa dari total lahan tersebut, sebanyak 37.000 hektare telah ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang tidak boleh dialihfungsikan secara sembarangan.
“Majalengka harus maju, tapi pangan tetap prioritas. Kita butuh ruang bagi investor, namun produksi lokal adalah benteng utama kita menghadapi fluktuasi harga,” ujar Eman, Sabtu (3/1/2026).
Strategi Ganda: Produksi dan Pengendalian Harga
Tak hanya menjaga lahan, Pemkab Majalengka juga melakukan langkah nyata di lapangan:
– Stabilitas Harga: Menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di 10 titik strategis guna menekan inflasi, khususnya pada komoditas rentan seperti cabai.
– Dukungan Penyuluh: Memastikan koordinasi tetap solid bagi 293 penyuluh pertanian demi mendampingi petani meningkatkan produktivitas.
– Pemberdayaan Peternak: Menyalurkan bantuan ternak (sapi, kambing, dan ayam) ke wilayah Banjaran dan Talaga sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Melalui komitmen ini, Majalengka optimis dapat tumbuh menjadi kawasan industri tanpa harus mengorbankan identitasnya sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Barat.

