infomjlk.com — Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, Indonesia justru mencatat rekor kelam sebagai pusat penipuan lowongan kerja (loker) terbesar di kawasan Asia. Berdasarkan data terbaru dari Seek—induk perusahaan Jobstreet—yang dirilis November 2025, Indonesia menyumbang 62% dari total kasus penipuan loker di Asia dan 38% di kawasan Asia Pasifik, jauh melampaui Filipina di posisi kedua.
Sektor Paling Rawan
Pelaku kejahatan paling gencar membidik sektor yang minim persyaratan khusus. Administrasi dan pendukung kantor menjadi sasaran utama dengan persentase penipuan mencapai 39,36%, menyasar posisi seperti admin toko daring dan input data. Sektor lain yang masuk zona merah adalah manufaktur/logistik (staf gudang), ritel, perdagangan, serta pariwisata.
Modus Kian Canggih
Kepala Bidang Kepercayaan dan Keamanan Seek, Tom Rhind, mengungkapkan bahwa penipu kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan sering menyamar sebagai staf Jobstreet. Modus populer lainnya adalah tawaran kerja paruh waktu dengan tugas “like/subscribe” akun media sosial. Korban awalnya diberi komisi kecil untuk membangun kepercayaan, sebelum akhirnya dipaksa menyetor deposit uang yang tak bisa kembali.
Eksploitasi Keputusasaan
Tingginya angka pengangguran yang mencapai 7,46 juta orang per Agustus 2025 dinilai menjadi pemicu utama. Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Aspirasi) dan akademisi menilai, keputusasaan pencari kerja yang bertemu dengan rendahnya literasi digital serta lemahnya perlindungan hukum, menjadikan masyarakat Indonesia mangsa empuk bagi sindikat penipuan ini.

