“Gentengisasi” Prabowo dan Tantangan Jatiwangi, Antara Retorika Pusat dan Realitas Budaya Tanah

infomjlk.com — Gerakan “Gentengisasi” yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan, terutama di pusat-pusat industri tanah liat Indonesia, salah satunya di pusat kebudayaan tanah Jatiwangi, Majalengka. Meski terdengar sebagai angin segar bagi pengrajin lokal, para pengrajin dan tokoh budaya di Jatiwangi justru memberikan tanggapan yang lebih kritis dan reflektif.

Dalam sebuah diskusi santai, Pak Kadus Ila, salah satu tokoh pengrajin, memberikan komentar yang cukup menggelitik. Baginya, program Gentengisasi yang dibawa oleh Presiden Prabowo sebenarnya adalah langkah “kesiangan” jika diukur dari kacamata Majalengka.

“Pak Prabowo itu bisa dibilang kesiangan jika diukur dari kacamata Majalengka. Bupati kita, Mama Eman, sudah jauh-jauh hari mewajibkan setiap bangunan sekolah atau fasilitas publik yang menggunakan dana APBN/APBD di Majalengka wajib memakai genteng Jatiwangi,” ujarnya.

Bagi warga setempat, menggunakan genteng tanah liat bukan sekadar tren kebijakan baru, melainkan aturan dan budaya yang sudah mendarah daging dalam pembangunan selama bertahun-tahun lamanya.

Namun, di balik kebanggaan itu, ada kegelisahan dimana Pak Kadus Ila menyoroti bahwa industri genteng Jatiwangi saat ini sedang mengalami stagnasi. Berbeda dengan sentra industri lain yang terus berinovasi, Jatiwangi dinilai sedang kehilangan daya imajinasi dalam hal desain.

“Kita sedang stagnan. Jenis-jenis genteng ikonik seperti Talahab, Kodok, hingga Turbo mulai menghilang dari peredaran. Kita kehilangan desainer-desainer handal yang bisa membuat genteng Jatiwangi tetap relevan dengan zaman,” tambahnya.

Sentra genteng Jatiwangi tidak hanya mencakup satu kecamatan. Ada lima wilayah utama yang menjadi penyokong utama—Jatiwangi, Ligung, Kasokandel, Sukahaji, dan Dawuan—yang semuanya memiliki keterikatan kuat pada “Budaya Tanah.”

Bagi masyarakat Majalengka, tanah bukan sekadar komoditas, melainkan:

– Kekuatan Budaya: Simbol identitas lokal yang kuat.

– Kekuatan Sosial: Pengikat komunitas melalui kerja kolektif pengrajin.

– Kekuatan Ekonomi: Tulang punggung penghidupan ribuan kepala keluarga.

Para pengrajin berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada pernyataan politik atau jargon “Gentengisasi.” Mereka menuntut realisasi yang menyentuh akar permasalahan, seperti:

– Pendampingan Desain: Membantu pengrajin melakukan inovasi bentuk dan estetika genteng agar sesuai dengan arsitektur modern.

– Dukungan Alat dan Teknologi: Melalui dinas terkait (seperti Indag atau Koperasi) untuk memodernisasi proses produksi tanpa menghilangkan esensi tanahnya.

– Akses Pasar yang Terintegrasi: Memastikan program Gentengisasi benar-benar menyerap produk dari tangan pengrajin lokal secara adil.

“Harapan saya, Majalengka bisa jadi contoh nasional. Jangan cuma statement, tapi mari lakukan aksi nyata. Dukung kami dengan kebijakan, dukung dengan alat, agar budaya tanah ini tetap lestari dan mengikuti perkembangan zaman,” pungkas Pak Kadus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *