Kejeniusan Leluhur Sunda, Menyisipkan Logika Ilmiah Melalui Dongeng dan Aturan Pamali

infomjlk.com — Ingatan tentang perpustakaan sekolah dasar dengan buku-buku cerita rakyat yang berdebu itu mungkin masih lekat. Di sanalah kita pertama kali belajar mengeja dan perlahan percaya bahwa pengetahuan yang sah itu harus tertulis, logis, dan tercetak di atas kertas.

Padahal, sebelum mengenal abjad Latin, kita sebenarnya sudah dididik oleh budaya lisan Sunda yang kuat.

Tanpa papan tulis dan ruang kelas, leluhur mewariskan ilmunya lewat dongeng sebelum tidur dan serangkaian aturan ketat yang kita kenal sebagai pamali.

Sayangnya, generasi sekarang kerap meremehkan warisan ini. Kita yang merasa pintar karena menguasai sains modern sering menertawakan nasihat orang tua.

Kalimat seperti “Ulah kiih di tangkal gede, bisi disamber jurig” (Jangan kencing di pohon besar, nanti disambar hantu) terdengar sebagai takhayul yang tidak masuk akal.

Padahal jika dibedah, alam pikir manusia Sunda sejatinya menyimpan sains yang jenius. Leluhur sadar bahwa bahasa teknis konservasi air tidak akan mempan untuk mendisiplinkan masyarakat desa.

Maka, sains itu dibungkus dengan narasi mistis agar dipatuhi. Pohon besar seperti beringin adalah penjaga mata air. Melarang orang mengotorinya dengan ancaman hantu terbukti jauh lebih efektif menjaga hutan daripada sekadar papan peringatan dinas.

Pada titik inilah kita harus sadar bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf.

Sekolah mengajarkan kita membaca teks, namun kearifan Sunda mengajarkan membaca semesta. Kita butuh logika buku untuk kemajuan zaman, tapi tetap butuh nilai leluhur agar etika terhadap alam tidak hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *