Seni Maos Rasa dalam Epistemologi Literasi Budaya Sunda

infomjlk.com — Sering muncul anggapan bahwa orang Sunda itu tidak tegas dan suka bertele-tele. Padahal jika dilihat dari sudut pandang epistemologi, sikap itu justru bentuk kecerdasan emosional yang tinggi.

Budayawan Jakob Sumardjo menyebut bahwa pola pikir orang Sunda tidak melulu berbasis logika benar dan salah, melainkan pada rasa dan kepatutan untuk membaca situasi.

Kecerdasan ini sering terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Melalui undak usuk basa, seseorang terlatih berpikir cepat untuk menyesuaikan bahasa dengan siapa ia bicara.

Begitu pula saat menolak tawaran makan dengan kalimat “Ah, teu sawios” (tidak usah). Itu bukan kebohongan, tapi cara halus memberi jeda agar tuan rumah tidak merasa direpotkan. Tujuannya sederhana, yaitu agar hubungan dan perasaan orang lain tetap terjaga.

Maka definisi literasi tidak bisa dibatasi hanya sebatas kemampuan membaca huruf di kertas. Sekolah formal mengajarkan kita menjadi pintar membaca teks, sedangkan kearifan lokal mengajarkan kita peka mempraktikkan seni maos rasa.

Kemampuan membaca hal yang tersirat inilah yang membuat manusia tetap punya etika di tengah zaman yang serba instan dan buru-buru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *