Bagaimana Jadinya Kalau Majalengka Berani Membangun Kota Literasi dari Sisa-Sisa Bangunan Terbengkalai?

infomjlk.com — Coba bayangkan sebentar skenario di mana Majalengka yang berstatus kota kecil ini tiba-tiba mengubah bangunan kosongnya menjadi deretan ruang baca terbuka. Bayangkan bangunan-bangunan tua yang terbengkalai dihidupkan kembali bukan sebagai gudang melainkan sebagai rak buku raksasa yang bisa diakses siapa saja. Kedengarannya memang seperti angan-angan belaka, tetapi sebuah kota kecil di perbatasan Wales bernama Hay-on-Wye sudah membuktikan bahwa gagasan liar semacam ini sangat mungkin direalisasikan.

Puluhan tahun lalu Hay-on-Wye hanyalah kawasan sunyi yang perekonomiannya jalan di tempat sebelum akhirnya seorang warga lokal bernama Richard Booth melakukan manuver nekat. Pria itu memborong berton-ton buku bekas dari luar negeri lalu menyulap berbagai bangunan terbengkalai seperti bekas stasiun pemadam kebakaran hingga gedung lama menjadi labirin buku raksasa. Langkah berani ini disempurnakan dengan sebuah deklarasi yang mengklaim kotanya sebagai kerajaan buku merdeka demi memancing rasa penasaran media massa sekaligus turis internasional.

Langkah provokatif itu akhirnya berhasil merangsang warga sekitar yang awalnya pesimis untuk ikut bergerak menata garasi dan ruang-ruang kosong di sekitar mereka menjadi lapak baca. Sebagai sesama kota kecil Majalengka sebenarnya punya lanskap yang potensial untuk mengadopsi semangat serupa karena kita juga memiliki banyak bangunan tak terurus. Daripada membiarkan ruang-ruang tersebut lapuk dimakan waktu rasanya jauh lebih masuk akal jika kita mulai membersihkannya dan menyusun buku-buku murah di sana sebagai perpustakaan swadaya.

Menghidupkan identitas kota lewat literasi memang membutuhkan sedikit keberanian untuk membuat keramaian baru agar mata publik mau menoleh. Inisiatifnya bisa bermula dari langkah sederhana seperti memanfaatkan area bangunan kosong agar siapa saja bisa singgah dan membaca tanpa syarat. Upaya organik semacam ini adalah bukti bahwa warga kota kecil selalu punya cara cerdas untuk membangun ruang interaksinya sendiri secara mandiri lewat lembaran buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *