infomjlk.com — Bicara soal kiamat ekologi atau kehancuran alam, kita sebenarnya sedang membicarakan sebuah keniscayaan. Berbagai upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan manusia saat ini sejatinya bukan untuk melawan takdir kerusakan tersebut, melainkan sebuah ikhtiar untuk memperlambat datangnya hari itu.
Cepat atau lambat, penurunan kualitas lingkungan adalah realita yang tidak bisa dihindari akibat keserakahan manusia yang kerap memandang alam sebatas komoditas demi urusan perut semata.
Bukti bahwa kiamat ekologi perlahan mendekat sudah mulai terlihat di Majalengka. Merujuk pada catatan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat dalam beberapa waktu belakangan, ratusan kejadian bencana alam telah melanda wilayah ini.
Fenomena tersebut didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Tingginya intensitas bencana dalam kurun waktu singkat merupakan sebuah tanda bahwa keseimbangan alam kita telah melampaui batas toleransi.
Kondisi yang datang secara beruntun ini adalah wujud nyata bagaimana alam merespons setiap bentuk eksploitasi yang terus dibiarkan tanpa kendali.
Melihat kondisi tersebut, kita dihadapkan pada realita yang menguji kesadaran. Ketika manusia terus kehilangan empati dan mengorbankan alam demi kepentingan finansial, laju kehancuran ekologi akan bergerak semakin cepat.
Eksploitasi lingkungan yang terus dibiarkan hanya akan membawa peradaban pada kondisi terburuk. Menjaga keseimbangan ekologi berarti kita memberi ruang bagi generasi mendatang untuk tetap bisa bernapas dan hidup layak di tanah kelahirannya.
Keberlangsungan itu kini bergantung pada pilihan kita, apakah bersedia menahan diri untuk memperlambat kerusakan alam atau justru membiarkan hari kehancuran tersebut datang lebih awal.

