Dari Tradisi Rasulullah hingga Budaya Sosial, Ini Sejarah Buka Bersama (Bukber) di Bulan Ramadan

infomjlk.com — Tradisi buka puasa bersama (bukber) kini telah menjadi agenda wajib setiap bulan Ramadan. Namun, di balik keriuhan di kafe dan restoran saat ini, bukber memiliki akar sejarah yang mendalam, bermula dari ajaran Rasulullah SAW tentang kemuliaan berbagi.

Sejarah bukber berhulu pada tradisi Nabi Muhammad SAW di Madinah. Kala itu, beliau sangat menganjurkan umatnya memberi makan orang yang berpuasa, menjanjikan pahala yang setara dengan orang yang berpuasa tersebut. Para sahabat pun terbiasa membawa kurma dan air ke masjid untuk dinikmati bersama, menciptakan fondasi spiritual bagi kebersamaan di waktu Magrib.

Seiring meluasnya peradaban Islam, tradisi ini berkembang menjadi gerakan sosial masif. Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, penguasa di kota-kota besar seperti Baghdad dan Kairo mendirikan dapur umum untuk rakyat. Masjid-masjid pun bertransformasi menjadi pusat solidaritas, tempat si kaya dan si miskin duduk bersama di satu meja hidangan.

Masuk ke Indonesia pada abad ke-13, tradisi ini berasimilasi dengan budaya lokal melalui peran Wali Songo. Konsep bukber di surau atau langgar menjadi cermin gotong royong masyarakat Nusantara. Hingga akhir abad ke-20, pergeseran mulai terjadi; bukber merambah ke hotel dan restoran mewah sebagai bagian dari gaya hidup urban dan ajang reuni lintas komunitas.

Meski kini tampil lebih modern dan terkadang konsumtif, para sosiolog dan ulama mengingatkan agar esensi utama bukber tidak luntur. Nilai intinya bukan pada kemewahan menu, melainkan pada penguatan silaturahmi dan kepedulian sosial.

Tradisi yang telah bertahan selama belasan abad ini membuktikan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan momen emas untuk merajut kembali tali persaudaraan yang sempat merenggang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *