1948-1949: Kisah Kesatuan Militer Belanda “41 ZMC” yang Ditempatkan di Majalengka Semasa Perang Kemerdekaan

infomjlk.com — Catatan sejarah militer Belanda kembali mengungkap fragmen peristiwa di wilayah Majalengka selama masa perang kemerdekaan. Adalah kesatuan 41 Zelfstandige Mitrailleur Compagnie (41 ZMC), sebuah kompi senjata mesin dari Divisi “7 December”, yang pernah menjadi aktor utama dalam pengamanan wilayah ini sejak Desember 1948.

Tiba di Cirebon dengan kapal Sibajak, kesatuan yang dipimpin Mayor W. van Eck ini menjadikan Majalengka sebagai medan operasi yang panas. Berdasarkan dokumen Troepenoverzicht 1945-1950, wilayah Majalengka saat itu digambarkan sebagai daerah yang sangat bergejolak. Pasukan Belanda tidak hanya berhadapan dengan TNI, tetapi juga faksi lain seperti Hizbullah, Darul Islam, hingga kelompok bersenjata setempat.

Hutan jati yang luas dan lereng Gunung Ciremai menjadi saksi bisu seringnya terjadi kontak tembak, penyergapan konvoi, hingga ledakan bom pinggir jalan. Salah satu pertempuran hebat tercatat terjadi di Cibodas, di mana Belanda berhasil merebut dua senapan mesin berat sisa peninggalan Jepang. Namun, perang tak hanya soal angkat senjata. Di sela ketegangan, para prajurit sempat membangun lapangan voli di Darmawangi untuk mengusir jenuh, meski sering kali fasilitas olahraga mereka hancur akibat kondisi lapangan yang ekstrem.

Tragedi memuncak pada April 1949 di Antranaya. Dalam upaya evakuasi tiga jasad rekan mereka yang gugur melawan TNI, hanya satu jenazah yang berhasil ditemukan. Secara keseluruhan, enam anggota 41 ZMC tewas selama bertugas di wilayah Majalengka. Masa mencekam ini mulai mereda seiring berlakunya gencatan senjata pada 10 Agustus 1949. Setelah sempat dipindahkan ke Ligung hingga Bandung—di mana mereka merasakan ketegangan kudeta Westerling—kesatuan ini akhirnya dipulangkan ke Belanda pada Mei 1950 melalui pelabuhan Jakarta, menutup lembaran operasi mereka di tanah Pasundan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *