infomjlk.com — Penanganan stunting di berbagai daerah, umumnya masih berpusat pada distribusi makanan tambahan instan di fasilitas kesehatan.
Upaya tersebut merupakan intervensi jangka pendek, namun belum sepenuhnya menyentuh penyelesaian masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama UGM dan UNSRI memaparkan pendekatan alternatif. Penelitian ini menyoroti efektivitas Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam menerapkan sistem pertanian terintegrasi atau dikenal dengan istilah urban farming.
Melalui penerapan teknologi sederhana seperti Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember), warga dapat memproduksi kebutuhan nutrisinya secara mandiri dari pekarangan rumah.
Jika ditinjau dari perspektif ketahanan pangan, metode ini langsung menyasar sektor hulu. Pemeliharaan ikan di dalam ember menyediakan pasokan protein hewani, sementara sayuran yang ditanam di atasnya menyuplai kebutuhan mikronutrien.
Praktik ini memungkinkan masyarakat mengontrol kualitas gizi secara mandiri sejak fase produksi, sehingga perlahan mengurangi ketergantungan pada produk olahan pabrik.
Melihat karakteristik wilayah Majalengka yang masih memiliki banyak lahan pekarangan serta jaringan komunitas desa yang aktif, model mitigasi stunting berbasis kemandirian pangan memiliki potensi besar untuk diadaptasi.
Pemanfaatan teknologi tepat guna oleh warga lokal dapat menjadi langkah strategis yang berkelanjutan dalam pemenuhan gizi keluarga. Pola pemberdayaan komunal seperti ini, memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam menekan risiko stunting di lingkungan sekitarnya.

