infomjlk.com — Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati telah mengubah rona fisik Kecamatan Kertajati secara fundamental dalam satu dekade terakhir. Wilayah yang sebelumnya didominasi oleh hutan produksi dan pertanian lahan kering, kini beralih fungsi menjadi infrastruktur penerbangan berskala masif. Transformasi radikal ini bukan sekadar pengamatan visual di lapangan, melainkan terdokumentasi secara presisi melalui teknologi penginderaan jauh atau dikenal dengan istilah remote sensing.
Bukti perubahan bentang alam ini terekam dalam riset terbaru Universitas Indonesia (2024) berjudul “Analisis Spasial Temporal Perubahan Tutupan Lahan Akibat Pembangunan Bandara Kertajati”. Studi ini mengonfirmasi bahwa perubahan lanskap di kawasan tersebut berlangsung secara progresif dan mengubah struktur ekologis wilayah secara permanen.
Temuan tersebut diperkuat oleh data rinci dalam riset “Analisis Dampak Pembangunan Infrastruktur Bandara Internasional Jawa Barat Terhadap Alih Fungsi Lahan Pertanian Melalui Citra Satelit Resolusi Tinggi” karya Sari dan Kushardono (2019). Penelitian ini memetakan secara spesifik konversi lahan yang terjadi di lima desa yang menjadi lokus tapak utama, yakni Desa Kertajati, Bantarjati, Kertasari, Sukamulya, dan Sukakerta
Berdasarkan analisis citra satelit dalam riset tersebut, terlihat pergeseran ekstrem dari tutupan lahan vegetasi menjadi lahan terbangun. Ribuan hektare area yang sebelumnya hijau oleh aktivitas agraris dan kehutanan, kini tergantikan oleh struktur perkerasan landasan pacu, terminal, serta fasilitas pendukung bandara.
Validitas pemantauan perubahan ini juga sejalan dengan metodologi yang dipaparkan dalam jurnal “Spatial Temporal Land Use Change Detection Using Google Earth Data” karya Wibowo dkk. (2016), yang menegaskan bahwa rekam jejak digital melalui satelit mampu memberikan data historis yang akurat mengenai hilangnya area resapan air alami.
Temuan data spasial ini menjadi catatan krusial bagi sejarah tata ruang Majalengka. Metamorfosis yang terjadi di Kertajati merefleksikan bagaimana sebuah Proyek Strategis Nasional mampu merekayasa ulang topografi dan ekosistem wilayah dalam tempo singkat. Data ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik megahnya infrastruktur fisik yang terbangun, terdapat biaya lingkungan berupa hilangnya lahan produktif yang perubahannya bersifat permanen dan tidak dapat dikembalikan.

