infomjlk.com — Sebuah memori visual membawa kita kembali ke medio Februari 1930. Melalui bidikan kamera penjelajah asal Belanda, Gerard Martinus Versteeg, wajah pedesaan Majalengka hampir seabad lalu terdokumentasi dengan apik. Versteeg tidak sekadar melintas; ia merekam detail arsitektur lokal yang kini menjadi harta karun di Tropen Museum.
Dalam catatan perjalanannya, Versteeg memberikan perhatian khusus pada hunian masyarakat di kawasan Leuwimunding dan Sukahaji. Foto-foto tersebut bukan sekadar potret kusam, melainkan bukti kekayaan filosofi bangunan Tatar Sunda yang adaptif dengan alam.
Secara tradisional, masyarakat Sunda mengenal berbagai jenis bentuk atap yang unik. Mulai dari Badak Heuay, Perahu Kemureb, Jubleg Nangkub, Tagong Anjing, Buka Pongpok, hingga Capit Gunting. Namun, dari sekian banyak model, bentuk Jolopong tetap menjadi primadona karena kesederhanaannya yang elegan.
Struktur Jolopong dicirikan oleh dua bidang atap yang dipisahkan oleh jalur suhunan (bubungan) di tengah bangunan, menciptakan simetri yang kokoh namun tetap fungsional bagi hunian pedesaan.
Koleksi foto Versteeg menyoroti tiga gaya rumah berbeda di titik lokasi yang beragam:
– Sukahaji: Harmoni Anyaman dan Silang Gunting
Di Desa Sukahaji, terekam sebuah rumah dengan dinding anyaman bambu yang dipasang miring. Keunikannya terletak pada balok atap yang melengkung lembut serta ujung atap bergaya Cagak Gunting, menyerupai gunting yang saling menyilang.
– Leuwimunding: Kesederhanaan yang Ikonik
Bergeser ke Desa Nanggerang, Leuwimunding, Versteeg mengabadikan hunian Sunda kuno yang konsisten menggunakan dinding bambu dan ciri khas atap Cagak Gunting yang menjadi identitas visual kuat pada masa itu.
– Selagedang: Detail Tanduk dan Atap Alang-Alang
Potret di Desa Selagedang menampilkan kemewahan organik. Rumah di sana memiliki variasi hiasan tanduk pada ujung atapnya yang melengkung. Berbeda dengan dua lokasi sebelumnya, atap di Selagodang masih menggunakan material alami dari alang-alang, memberikan kesan sejuk dan menyatu dengan lingkungan sekitar.
Rekaman sejarah ini mengingatkan kita bahwa arsitektur bukan sekadar tempat bernaung, melainkan pernyataan identitas budaya yang telah tumbuh subur di bumi Majalengka sejak lama.

