infomjlk.com — Kita tidak akan pernah bisa memahami realitas secara utuh jika perbendaharaan kata di kepala kita sangat terbatas. Ludwig Wittgenstein menyatakan bahwa batas bahasa seseorang adalah batas dunianya.
Ketidakmampuan literasi dalam memperkaya perbendaharaan kata inilah yang membuat jangkauan pikiran seseorang akhirnya menyempit. Kita tidak akan pernah bisa memahami atau mengurai sebuah persoalan jika tidak memiliki kata yang tepat untuk membahasakannya.
Kondisi tersebut yang memicu munculnya pola pikir biner yang hanya mengenal dua kutub ekstrem. Karena minimnya kosa kata untuk memproses situasi yang rumit, segala sesuatu akhirnya disederhanakan secara kasar.
Dunia hanya dipahami dalam sekat benar atau salah, kawan atau lawan, serta cinta atau benci. Tidak tersedia istilah yang memadai untuk mempertimbangkan konteks di luar dua kutub tersebut.
Akibatnya, pengambilan keputusan sering kali dilakukan melalui jalan pintas yang kurang menyeluruh. Sebuah perbedaan pandangan yang seharusnya bisa dibedah secara objektif justru dianggap sebagai serangan personal.
Kritik disalahartikan sebagai pernyataan kebencian karena terbatasnya kamus di kepala untuk membedakan keduanya. Semua informasi dipaksa masuk ke dalam kategori hitam atau putih, sehingga seseorang hanya menjadi tawanan dari pikirannya sendiri yang gagal melihat luasnya realitas di luar pilihan ya atau tidak.

