infomjlk.com — Bencana tanah longsor yang belum lama ini melanda petilasan Ki Bagus Rangin di Jatitujuh, memunculkan beragam kemungkinan di tengah masyarakat.
Rentannya kondisi lahan tersebut kerap dikaitkan dengan sisa dampak aktivitas pengerukan pasir pada puluhan tahun silam atau bisa saja murni akibat faktor alam belakangan ini.
Terlepas dari apa pun penyebab pastinya kerusakan fisik itu menjadi sebuah tanda bahwa kawasan bersejarah ini membutuhkan perhatian khusus agar tidak terabaikan.
Berangkat dari kondisi tersebut wacana pembenahan kawasan petilasan kini mulai mengemuka. Andaikata jika situs ini mulai dibenahi, arah pengembangannya sangat potensial didorong menjadi pusat wisata religi.
Mengingat besarnya nama Ki Bagus Rangin yang sudah dikenal luas oleh masyarakat gagasan ini sangat rasional untuk direalisasikan.
Jika saat ini aktivitas peziarah umumnya hanya terpusat pada setiap malam Jumat dan Sabtu Kliwon ke depannya lokasi ini bisa dihidupkan lebih meriah lewat agenda rutinan tahunan atau peringatan pada momen momen tertentu. Langkah pembenahan ini tidak sekadar memperbaiki fisik bangunan tetapi bertujuan mengubah ruang tersebut menjadi pusat interaksi spiritual yang jauh lebih tertata.
Apabila wacana pengembangan wisata religi tersebut kelak terealisasi ruang harapan bagi warga sekitar tentu akan terbuka lebar. Transformasi kawasan berpeluang besar mengubah status petilasan dari sekadar monumen pasif menjadi ekosistem publik yang aktif.
Perputaran roda ekonomi masyarakat diharapkan ikut merasakan dampak positifnya seiring meningkatnya angka kunjungan peziarah dari berbagai daerah. Melalui cara inilah warisan sejarah Ki Bagus Rangin mampu memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan warga masa kini tanpa harus kembali merusak lingkungan.

