infomjlk.com — Antusiasme warga Majalengka menyambut malam Lailatul Qadar tetap terjaga lewat tradisi mamaleman. Tradisi berbagi pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, kini beradaptasi menjadi jauh lebih praktis dan membaur dengan zaman.
Jika dulu jamaah sibuk menenteng rantang sendiri ke masjid kini polanya mulai berubah. Warga lebih memilih pendekatan kolektif dengan mengumpulkan sedekah makanan dan minuman kepada koordinator di lingkungan setempat.
Seluruh kumpulan donasi tersebut kemudian dibungkus rapi menjadi paket berkat yang siap dibagikan usai ibadah malam.
Pergeseran gaya ini juga terlihat mencolok dari isi bungkusannya. Berkat mamaleman tidak lagi melulu didominasi kue tradisional atau nasi beserta lauk pauk.
Produk kekinian seperti teh dalam kemasan botol hingga aneka jajanan warung sangat lumrah disatukan dalam satu kantong.
Pola berbagi yang sangat merakyat ini terus merawat nilai gotong royong masyarakat. Tidak ada patokan khusus bagi warga yang ingin ikut bersedekah.
Siapa pun bebas menyumbang beberapa botol minuman kemasan atau sekresek jajanan anak-anak sesuai keikhlasan. Transformasi ini membuktikan bahwa esensi silaturahmi dan berbagi rezeki tetap lekat dan tidak pudar meski wujud tradisinya telah beradaptasi dengan era modern.

