Seragam Pabrik dan Ilusi Kerja Keras Anak Muda Majalengka

infomjlk.com — Transformasi Majalengka menjadi kawasan industri mengubah drastis arah hidup anak mudanya. Setiap hari, ribuan pemuda memadati jalanan menuju berbagai gerbang manufaktur.

Setelah lulus sekolah, kemudian langsung banting tulang di lantai pabrik, dinilai oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk nyata dari sebuah kerja keras.

Banyak pihak menganggapnya sebagai salah satu jalan menuju kemandirian finansial tanpa pernah secara utuh membedah alasan pahit di balik pilihan tersebut.

Padahal narasi kerja keras ini menyimpan ketimpangan sosial yang nyata. Keputusan menghabiskan masa muda di depan mesin produksi bukanlah lahir dari ambisi besar untuk menjadi kaya raya melainkan murni dorongan bertahan hidup.

Mayoritas pemuda di daerah tidak lahir membawa fasilitas modal dari orang tua maupun jaminan akses pendidikan tinggi. Mereka tidak memiliki kemewahan waktu untuk sekadar mencari jati diri atau mencoba membangun bisnis mandiri.

Menjadi bagian dari industri, kini menjadi salah satu pintu masuk paling masuk akal ketika urusan perut tidak bisa diajak kompromi.

Meromantisasi keringat buruh pabrik sebagai satu-satunya alat penakluk nasib adalah ilusi yang menipu. Pekerjaan tersebut memang jalan mencari nafkah yang sangat terhormat namun menganggapnya setara dengan laju kesuksesan mereka yang sudah bermodal sejak lahir jelas sebuah kesalahan besar.

Maka menuntut anak muda daerah untuk segera merengkuh kesuksesan secara materi menjadi sangat tidak adil.

Garis mula perlombaan hidup setiap individu sangat nyata perbedaannya, sehingga wajar jika standar kesuksesan tidak akan pernah bisa diseragamkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *