Melacak Aroma Celyon, Kisah Ekspotir Teh Majalengka ke Eropa Sejak Era Hindia Belanda

infomjlk.com — Majalengka mempunyai sejumlah perkebunan teh besar pada zaman Belanda, diantaranya adalah Argalingga, Sadarehe, Cibunut, Cibulan, Cipasung, dan Lemah Putih.

Awalnya, jenis teh yang digunakan adalah berasal dari Cina atau Jepang seperti yang ditanam oleh pemerintah Hindia Belanda di Argalingga – Batukarang dan Lemah Putih pada tahun 1838 dan 1841. Namun selanjutnya, para pengusaha swasta lebih tertarik menggantinya dengan bibit teh asal Sri Langka (Ceylon) atau India, yang lebih tahan dan cocok dengan iklim tropis.

Pada abad 19 dan awal abad ke 20 produksi masih manual, dengan tahapan daun teh basah dilayukan di dalam tampir atau tampah, kemudian digulung untuk tahap fermentasi. Setelah itu digongseng dan dikeringkan, yang menghasilkan salah satu jenis olahan teh, yaitu Suchon. Bila berasal dari daun teh yang lebih muda disebut Pekoe, dan bila kualitas lebih rendah disebut Congo.

Produksi teh dari Majalengka mayoritas dikirim ke Eropa dan berjalan hingga pecah Perang Dunia II. Tahun 1939, Perkebunan Argalingga masih sempat mengekspor teh ke Amsterdam walau waktu pengiriman lebih lama, dan biaya lebih mahal akibat berkecamuknya perang di Eropa.

Industri perkebunan teh besar di Majalengka mulai terpukul dan terlantar selama pendudukan Jepang serta konflik militer Indonesia – Belanda. Situasi yang tak menguntungkan ini membuat banyak perkebunan tutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *