infomjlk.com — Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi mudik kembali menggerakkan jutaan masyarakat Indonesia. Bagi para perantau asal Majalengka, perjalanan pulang ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi perjalanan rindu yang selalu dinantikan.
Arus kendaraan menuju Majalengka mulai meningkat. Mobil pribadi, sepeda motor, hingga bus antarkota silih berganti membawa para pemudik yang ingin segera kembali ke kampung halaman.
Bagi warga Majalengka yang merantau di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, momen mudik menjadi waktu yang paling dinantikan. Perjalanan panjang yang melelahkan seakan terbayar saat bisa kembali berkumpul dengan keluarga.
“Setiap tahun saya pasti pulang ke Majalengka. Capek di jalan itu biasa, tapi begitu sampai rumah dan bertemu ibu, semua lelah itu hilang,” ujar Andi Setiawan (35), perantau yang bekerja di Jakarta, kepada Times Indonesia.
Hal serupa disampaikan Rina Kartika (28), pekerja asal Majalengka yang kini tinggal di Bekasi. Menurutnya, suasana Lebaran terasa berbeda jika tidak pulang kampung.
“Lebaran di Majalengka itu hangat. Bisa kumpul keluarga dan makan bersama, itu yang selalu dirindukan,” katanya.
Setiap Lebaran, desa-desa di Majalengka kembali hidup oleh kedatangan para pemudik. Rumah-rumah yang biasanya sepi menjadi ramai, dapur dipenuhi aroma hidangan khas seperti ketupat dan opor ayam.
Bagi para perantau, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi cara untuk kembali pada akar dan merasakan hangatnya kebersamaan keluarga. Saat takbir berkumandang di langit Majalengka, mereka tahu perjalanan rindu itu akhirnya sampai di tujuan.

