infomjlk.com — Perayaan Idul Fitri di tatar Sunda, rasanya belum benar-benar purna jika wajan di dapur belum memanaskan balakatineung. Secara harfiah hidangan ini merupakan percampuran sisa lauk pauk hari raya seperti opor ayam rendang hingga sambal goreng yang disatukan dan dipanaskan berulang kali.
Alih alih dianggap sebagai makanan sisa balakatineung justru menempati kasta kuliner tertinggi dan kerap menjadi incaran utama setelah hiruk pikuk Lebaran mulai mereda.
Lebih dari sekadar urusan perut, sebenarnya balakatineung adalah wujud nyata kearifan lokal masyarakat Sunda dalam mengelola pangan.
Daripada membiarkan sisa makanan yang berlimpah berakhir di tempat sampah, para leluhur memilih penggunaan metode pemanasan secara perlahan. Proses pemanasan yang diulang ulang ini, tidak sekadar menyusutkan kadar air dan mengawetkan lauk secara alami, melainkan mengunci cita rasa bumbu agar meresap sempurna ke dalam serat daging paling dalam.
Ini adalah bukti kecerdasan masa lalu sekaligus cara elegan masyarakat tradisional untuk menghindari kemubaziran.
Menariknya, kearifan lokal ini ternyata sangat melekat dan menjadi salah satu tradisi kuliner favorit warga Majalengka.
Metode pemanasan berulang pada balakatineung, menciptakan karamelisasi bumbu yang pekat membuat rasanya jauh lebih gurih dan medok, dibandingkan masakan yang baru matang pada hari pertama raya.
Bagi masyarakat Sunda, menyantap balakatineung bukan sekadar urusan menghabiskan sisa makanan melainkan cara terbaik merayakan sisa kemeriahan Lebaran melalui racikan bumbu yang memanjakan lidah.

