infomjlk.com — Cuaca Majalengka yang masih sering diguyur hujan, paling pas untuk dilawan dengan camilan panas dari pinggir jalan. Salah satu primadonanya adalah Jalakotek.
Secara visual, jajanan ini memang mengadaptasi bentuk pastel. Namun di sinilah letak kearifan lokal masyarakat Majalengka bekerja; memodifikasi kudapan mahal menjadi camilan merakyat bermodal bahan baku yang murah dan melimpah, yakni campuran tepung tapioka atau aci dan terigu.
Hasil modifikasi tersebut menciptakan tekstur kulit yang kenyal dan renyah di luar, mirip seperti cireng. Pada versi orisinalnya, Jalakotek memiliki isian yang sangat sederhana dan membumi, yaitu tumisan tahu dan parutan wortel berbumbu.
Namun seiring berjalannya waktu, jajanan ini ikut berevolusi menyesuaikan lidah pasar. Isian Jalakotek kini semakin bervariasi, mulai dari suwiran ayam pedas, sosis, bakso, keju lumer, hingga makaroni basah dan lain-lain.
Di tengah gempuran jajanan kekinian dan ragam kuliner yang kian menjamur di Majalengka, Jalakotek tetap menolak mati.
Rahasia eksistensinya bertumpu pada harga yang sangat bersahabat di kantong, umumnya dibanderol mulai dari seribuan per buah.
Tidak heran jika camilan ini dapat merangkul semua kalangan, mulai dari anak sekolah yang mencari ganjalan perut hingga pekerja kantoran yang butuh teman nongkrong sore hari.
Camilan ini makin nikmat disantap panas-panas saat baru diangkat dari wajan, apalagi ditambah taburan bumbu balado atau cabai bubuk. Selain tepat untuk menghangatkan badan saat cuaca dingin, Jalakotek turut menjadi penggerak roda UMKM lokal.
Deretan gerobak Jalakotek yang tersebar dari kawasan GGM, Alun-alun hingga beberapa tempat kuliner daerah lainnya, membuktikan bahwa kreativitas mengolah aci mampu menghidupi ekonomi warga secara mandiri.

